Kenang Badai Cempaka, Konsorsium Relawan Pacitan Nyalakan Seribu LiLin

11
Suasana mengenang setahun bencana di Pacitan.

PACITAN, PENAPRESTASI.COM – Dampak Badai Cempaka yang menerjang pesisir Pantai Selatan satu tahun lalu, tepatnya 28 November 2017, menorehkan kenangan yang dalam bagi masyarakat Pacitan. Kemunculan banjir bandang yang menenggelamkan hampir 80 persen wilayah Pacitan serta membuat longsor hampir di setengah wilayah pegunungan, seolah menjadi pelajaran akan pentingnya kesadaran bahwa di Pacitan ini merupakan daerah dengan ancaman bencana.

Bencana bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipelajari agar masyarakat bisa memitigasi diri untuk mengurangi korban dan kerugian harta benda yang lebih besar.

Mengenang peristiwa tersebut, Konsorsium Relawan Peduli Bencana Pacitan,  pada Sabtu (1/12) bersama dengan kelompok relawan dari luar daerah, seperti Plesir Blitar, Johar Kediri, Detasemen 86 Pare, Karina Madiun, Karina Sego Berkat Pacitan, Karang Taruna Pelen, Semut Abang, Mbeling Adventure , Ngambu Pancer, dan beberapa relawan pribadi dari Jogjakarta dan Trenggalek, menggelar acara silaturahim mengenang kejadian bencana Pacitan dengan tema “Apa Kabar Sahabat ” di aula Hotel Srikandi Pacitan.Acara yang dihadiri kurang lebih 600 orang ini sebagai wujud solidaritas akan sesama.

“Acara ini kami gelar bukan sebagai atau untuk mengenang masa lalu. Namun ini sebagai cermin bahwa apapun bisa terjadi kapan pun. Tinggal  bagaimana kita memaknai ini semua sebagai bentuk introspeksi diri,” kata Doni HTF, kordinator acara.

Rangkaian acara tersebut, selain diisi dengan rangkaian hiburan musik. Juga ada puisi dan cerita langsung dari orang tua salah satu korban bernama Amri, warga Desa Sirnoboyo yang terseret arus karena saat itu membantu menyelamatkan warga dari banjir. Suasana haru bercampur sedih saat orang tua korban bercerita detik-detik terakhir anaknya terseret arus.

Acara yang dibuka dengan kenduri dan doa bersama ini berlangsung sangat khidmat. Ditambah satu akhir acara diisi dengan seremoni menyalakan seribu lilin sebagai simbol semangat dan solidaritas.

“Kami di sini adalah para relawan yang dengan ikhlas membantu demi kemanusiaan, tanpa embel-embel apapun itu. Lilin ini kami maknai dengan sebutan lilin sahabat. Dan sahabat yang datang malam ini adalah wujud dari kepedulian antarsesama. Inilah relawan sejati. Modalnya hanya keberanian dan solidaritas,” timpal Roko Sabas.(dan)