Inilah Cara yang Salah dalam Menangani Gigitan Ular Berbisa

69
Dokter Tri Maharani saat memberikan presentasi menghadapi gigitan ular berbisa.

SURABAYA, PENAPRESTASI.COM – Selama ini ternyata banyak cara yang salah dalam menangani orang yang digigit ular berbisa. Beberapa cara yang salah ini di antaranya diisap darahnya, melokalisir daerah tempat gigitan dengan tali, luka gigitan disayat-sayat, atau diobati dengan beberapa jenis bebatuan seperti dilakukan beberapa suku di Papua.

Bahkan, ada tabung pengisap darah yang biasa digunakan pecinta alam. Alat ini dianggap bisa mengatasi gigitan ular. Semua cara tersebut ternyata salah dan malah bisa mengakibatkan kematian bila tidak ditangani dengan benar dan cermat.

Hal inilah yang diungkapkan oleh Dr. dr. Tri Maharani MSi, Sp.Em yang menjadi pembicara Reptile Super Show, Reptile Master Class. Acara ini diadakan Jawa Pos dan digelar di Ruang Semanggi, Lantai 4 Gedung Pena, Surabaya, Minggu (25/11).

“Tak ada satupun cara tradisional yang bisa mengatasi atau menyembuhkan gigitan ular berbisa,” ungkap Maha, demikian panggilan Tri Maharani. Bahkan, riset WHO menyatakan, alat penyedot bisa ular seperti yang digunakan pecinta alam juga tak bisa digunakan.

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa bisa ular masuk ke pembuluh darah. Namun, sebenarnya bisa ular masuk melalui pembuluh kelenjar getah bening.

Salah satu cara yang merupakan langkah darurat adalah imobilisasi. Imobilisasi, menurut Presiden Indonesia Toxinology Society ini adalah membuat bagian tubuh yang digigit ular tak bergerak. “Ini merupakan langkah yang terbaik di Indonesia,” ucap satu-satunya ahli toksinologi di Indonesia ini.

Menurut pengajar Universitas Airlangga ini, imobilisasi adalah penanganan awal (first aid). Setelah itu, segera dilarikan ke tempat pelayanan kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit.

Dokter Maha juga mengungkapkan, tergigit ular banyak dialami anak-anak. Oleh karena itu, ia menciptakan lagu anak-anak bertemakan cara menghadapi gigitan ular. Ia juga menyoroti kasus gigitan ular yang diabaikan oleh pemerintah. Padahal, gigitan ular menempati posisi kedua setelah penyakit HIV/AIDS dan setingkat di atas penyakit kanker.

Dalam prediksinya, setidaknya dalam setahun ada 135 ribu kasus gigitan ular di Indonesia. Dari 348 jenis ular di Indonesia, 76 di antaranya adalah ular berbisa. Parahnya, dari 76 ular berbisa itu, hanya ada 3 anti venom (serum anti bisa ular) yang dibuat di Indonesia. Sedangkan kebanyakan harus diimpor.

Dari risetnya, umumnya korban gigitan ular berasal dari kalangan menengah kebawah. Mereka juga kurang mendapat pengetahuan kesehatan soal antisipasi gigitan ular. Malahan, berbagai cara kuno dan tradisional untuk mengatasi gigitan ular kerap digunakan. Pada akhirnya tindakan ini sia-sia sehingga berakibat kematian korban.

“Banyak yang terlambat dibawa ke rumah sakit karena sebelumnya dirawat dengan cara-cara tradisional dan kurang memperhatikan faktor kesehatan,” jelas wanita yang menjadi penasihat gigitan ular WHO ini.

Dokter Maha yang pernah menjadi reviewer snake bite yang diadakan WHO di Jenewa tahun 2017 juga memberikan tips untuk melihat ular berbisa atau tidak. Biasanya ular berbisa giginya bertaring. Sedangkan yang tidak berbisa giginya seperti pisau bermata dua dan ujungnya kecil.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Bakesbangpol Linmas Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan, kasus gigitan ular cukup mendominasi laporan Command Center 112. Ia juga heran karena habitat ular umumnya di hutan atau pegunungan, namun ternyata banyak ular yang bertebaran di Kota Surabaya dan mencelakai warga.

“Bahkan, kami pernah menangkap ular yang panjangnya 6 meter,” kata Yusuf yang juga menjadi narasumber acara ini. Ia juga mewanti-wanti anak buahnya di lapangan agar tidak menyakiti binatang apapun saat dilakukan penangkapan.(dan)